Katu, 19 September 2025 – Warga Desa Katu menggelar acara syukuran panen “mande pare” pada Jumat (19/9), sebuah tradisi tahunan yang sarat makna kebersamaan dan rasa syukur atas hasil bumi.

Kegiatan yang hanya diadakan sekali setiap tahun ini diawali dengan ibadah syukuran di rumah ibadah desa. Dalam ibadah tersebut, warga bersama-sama memanjatkan doa dan ucapan terima kasih atas berkat hasil panen yang melimpah.
Usai ibadah, rangkaian acara dilanjutkan dengan makan bersama di balai desa. Hidangan yang tersaji merupakan hasil panen dan olahan khas warga setempat, mencerminkan kekayaan budaya dan kuliner Desa Katu. Suasana penuh keakraban terlihat ketika seluruh warga, tua maupun muda, duduk bersama tanpa perbedaan.
Sebagai penutup, warga menampilkan tarian dero, tarian tradisional yang menjadi simbol persatuan dan sukacita. Iringan musik serta gerakan yang kompak menambah kemeriahan malam, sekaligus memperkuat rasa persaudaraan antarwarga.
Tradisi “mande pare” bukan hanya sekadar perayaan panen, tetapi juga menjadi momentum penting untuk menjaga warisan budaya leluhur, mempererat hubungan sosial, serta menanamkan rasa syukur kepada generasi muda.
Kepala Desa Katu menyampaikan harapannya agar acara ini terus dilestarikan. “Mande pare adalah identitas kita. Lewat tradisi ini kita belajar menghargai berkat Tuhan dan menjaga kebersamaan sebagai masyarakat,” ujarnya.
Dengan berlangsungnya syukuran tahun ini, masyarakat Desa Katu kembali meneguhkan komitmen untuk melestarikan tradisi, menjaga kebersamaan, dan menyongsong musim tanam berikutnya dengan penuh semangat.