Desa Katu, sebuah komunitas adat yang berdiri kukuh di kaki kawasan Taman Nasional Lore Lindu, menyimpan sejarah panjang kepemimpinan yang berakar dari nilai adat, gotong royong, dan kearifan lokal. Kepemimpinan di desa ini telah melewati berbagai fase transformasi: dari struktur kepemimpinan adat yang dikenal dengan sebutan Kepala Kampung, hingga sistem pemerintahan desa modern yang melibatkan kepala desa definitif, sekretaris desa, hingga Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

Kepemimpinan formal di Desa Katu dapat ditelusuri sejak tahun 1918, dimulai dari tokoh bernama Bilotu Toniri (Umana Timboka) yang menjabat sebagai Kepala Kampung. Masa ini merupakan fase di mana kepemimpinan bersifat turun-temurun dan sangat erat dengan struktur sosial adat. Dalam periode 1918–1960, terdapat sembilan pemimpin kampung, yang memimpin dengan basis kepercayaan masyarakat adat. Salah satu pemimpin terlama dalam periode ini adalah Makulu Pantoli (Umana Lajuku), yang memimpin dari tahun 1934 hingga 1960.
Para kepala kampung masa itu tidak hanya berperan sebagai pemimpin administratif, tetapi juga sebagai penjaga nilai-nilai budaya, penengah konflik, dan pengelola sumber daya alam secara kolektif. Mereka memiliki gelar adat seperti “Umana” yang melekat pada nama mereka, menandakan garis keturunan dan identitas sosial yang penting di dalam struktur masyarakat Katu.
Transformasi kepemimpinan terjadi pada tahun 1960, ditandai dengan diangkatnya Borosa Kapipi (Umana Salu) sebagai Kepala Desa definitif pertama. Sejak itu, Desa Katu mulai memasuki sistem pemerintahan formal yang diatur oleh negara, meski nilai-nilai adat masih tetap berperan penting dalam kehidupan masyarakat.
Kepemimpinan desa bergulir secara periodik, mencatat nama-nama seperti Gane Bago (1969–1977), Situ Pantoli (1983–2002) yang menjabat cukup lama selama hampir dua dekade, hingga Ali Pantoli (2007–2013) yang juga dikenal sebagai Ketua Lembaga Adat Katu saat ini. Pergantian kepemimpinan mencerminkan dinamika sosial dan politik lokal yang makin kompleks, tetapi tetap dibalut dalam bingkai musyawarah adat dan nilai kekeluargaan.
Saat ini, Desa Katu dipimpin oleh Henok Cugeno (Umana Enjel), pemenang Pilkades 2020 dan menjabat sejak tahun 2021. Kepemimpinan beliau mengusung semangat pemberdayaan ekonomi lokal dan pelestarian lingkungan, sejalan dengan tantangan perubahan iklim serta pengelolaan hasil hutan dan pertanian berkelanjutan.
Struktur birokrasi desa juga ditopang oleh Sekretaris Desa, dengan dua orang yang tercatat dalam sejarah administrasi: Joni Pantoli (1986–2002) dan Onesimus Lumeno yang masih menjabat hingga kini. Keduanya memainkan peran vital dalam mengelola dokumen, anggaran, dan komunikasi antara desa dan pemerintah kabupaten.
Sejak tahun 2014, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) aktif sebagai representasi masyarakat dalam pengawasan dan pengambilan kebijakan. Ketua BPD saat ini adalah Joni Pantoli, yang sebelumnya juga pernah menjabat sebagai Kepala Desa. Bersama empat anggota lainnya, BPD menjadi jembatan antara aspirasi warga dan pelaksanaan program-program desa.
Salah satu pilar terpenting dalam struktur sosial-politik Desa Katu adalah Lembaga Adat, yang tetap hidup dan dihormati hingga kini. Dipimpin oleh Ali Pantoli, lembaga ini menjadi garda terdepan dalam menjaga tatanan nilai adat, terutama dalam pengelolaan hasil hutan, penyelesaian konflik internal, hingga pelestarian hukum adat. Keberadaan mereka menjadi penyeimbang dalam sistem demokrasi desa, dengan menjaga agar nilai-nilai leluhur tetap menjadi fondasi dalam setiap pengambilan keputusan.
Jejak panjang kepemimpinan Desa Katu menggambarkan sebuah perjalanan kolaboratif antara warisan adat dan sistem pemerintahan formal. Dalam lanskap sosial yang terus berubah, para pemimpin desa ditantang untuk menjaga keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian kearifan lokal.
Dengan dukungan struktur pemerintahan yang solid dan masyarakat yang masih menjunjung tinggi adat istiadat, Desa Katu hari ini menjadi contoh bagaimana komunitas adat dapat hidup berdampingan dengan sistem negara tanpa kehilangan jati diri.
| Nama | Nama Adat (Umana) | Awal Menjabat | Akhir Menjabat | Keterangan |
| Bilotu Toniri | Umana Timboka | 1918 | 1923 | Kepala Kampung |
| Marato Manu | Umana Lampi | 1923 | 1925 | Kepala Kampung |
| Makada Tandei | Umana Kalumba | 1924 | 1927 | Kepala Kampung |
| Galo Ngkaro | Umana Kari | 1927 | 1928 | Kepala Kampung |
| Ntumu Manu | Umana Rudo | 1928 | 1929 | Kepala Kampung |
| Umbala Mentara | Umana Pihika | 1929 | 1930 | Kepala Kampung |
| Rambai Mentara | Umana Kalanda | 1930 | 1932 | Kepala Kampung |
| Ntembe Baona | Umana Luse | 1932 | 1934 | Kepala Kampung |
| Makulu Pantoli | Umana Lajuku | 1934 | 1960 | Kepala Kampung |
| Borosa Kapipi | Umana Salu | 1960 | 1962 | Kepala Desa Definitif |
| Humpui Torae | Umana Dema | 1962 | 1969 | Kepala Kampung |
| Gane Bago | Umana Seri | 1969 | 1977 | Kepala Desa Definitif |
| Lison Rore | Umana Santi | 1977 | 1983 | Kepala Desa Definitif |
| Situ Pantoli | Umana Bentunu | 1983 | 2002 | Kepala Desa Definitif |
| Joni Pantoli | Umana Epi | 2002 | 2007 | Kepala Desa Definitif |
| Ali Pantoli | Umana Minu | 2007 | 2013 | Kepala Desa Definitif |
| Ferdinan Lumeno | Umana Linda | 2014 | 2019 | Kepala Desa Definitif |
| Kristiawan Winono | Umana Ekris | 2019 | 2021 | Plt. Kepala Desa |
| Henok Cugeno | Umana Enjel | 2021 | Sekarang | Kepala Desa Definitif |
| Nama | Awal Menjabat | Akhir Menjabat | Keterangan |
| Joni Pantoli | 1986 | 2002 | |
| Onesimus Lumeno | 2003 | Sekarang | Masih menjabat |
| Nama | Jabatan | Awal Menjabat | Akhir Menjabat | Keterangan |
| Joni Pantoli | Ketua | 2014 | Sekarang | Definitif |
| Demas Torae | Sekretaris | 2014 | Sekarang | Definitif |
| Imran Deta | Anggota | 2014 | Sekarang | Definitif |
| Arwin Marumpu | Anggota | 2014 | Sekarang | Definitif |
| Almafera Torae | Anggota | 2014 | Sekarang | Definitif |
| Nama | Jabatan |
| Ali Pantoli | Ketua |
| Wiranto Patimang | Sekretaris |
| Hosea Manu | Anggota |